Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dibuka melemah pada awal sesi perdagangan Rabu pagi, 20 Mei 2026. Indeks terkoreksi sebesar 1,10 poin atau 0,48 persen menjadi 226,95, melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung beberapa sesi terakhir.
Pelemahan ini sejalan dengan kondisi pasar saham domestik secara luas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut melemah 0,66 persen ke level 6.328,91 pada pembukaan pagi ini. Sebanyak 371 saham dibuka melemah, 156 menguat, dan 432 saham bergerak stagnan.
Indeks syariah lainnya juga tak luput dari tekanan. Jakarta Islamic Index (JII) melemah 1,26 persen ke posisi 423,21, sementara JII70 turun 0,68 persen ke level 158,25. Hanya IDX30 yang berhasil menguat tipis 0,53 persen ke posisi 363,39.
Pada perdagangan sehari sebelumnya, Selasa 19 Mei 2026, IHSG ditutup anjlok 3,46 persen ke posisi 6.370,68 dengan total nilai transaksi mencapai Rp25,33 triliun. IHSG kini telah melemah sekitar 24 persen secara year-to-date, menjadikannya salah satu indeks dengan kinerja terburuk di kawasan Asia sepanjang tahun ini.
Dari sisi sentimen global, tekanan utama datang dari rilis data inflasi Amerika Serikat yang melampaui perkiraan, mendorong kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Eskalasi konflik di Timur Tengah dan melemahnya aktivitas ekonomi China juga turut menambah tekanan pada aset-aset negara berkembang, termasuk saham syariah Indonesia.
Di sisi domestik, Bank Indonesia tengah menggelar rapat kebijakan dua hari dengan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan dinaikkan dari 4,75 persen menjadi 5 persen guna menopang rupiah yang terus tertekan. Selain itu, revisi bobot MSCI yang berpotensi memicu arus keluar modal hingga Rp29,5 triliun turut membayangi sentimen pelaku pasar.
Para analis memperkirakan ISSI dan pasar saham domestik masih rawan melanjutkan koreksi dalam waktu dekat. MNC Sekuritas menyebut level support IHSG berada di area 6.270 dan 6.148, dengan resistance di 6.640 dan 6.745.


